Latar Belakang

Merenung Sejenak :

“Dosa pertama manusia adalah ketika Nabi Adam as terlena bujukan iblis untuk memakan “buah” dengan iming-iming kehidupan dan kekuasaan yang kekal (baca Q.s. 20:120). Maka tentu tidak mengherankan ketika dijumpai banyak anak cucu Adam, terutama yang terlalu menyadari kekhalifahannya begitu gampang tergoda oleh kehidupan dan kekuasaan. Bahkan jangan-jangan tangisan dan jeritan bayi saat lahir ke dunia merupakan ungkapan belaka dari keinginan hidup dan berkuasa itu? seperti menyadari kehidupan dan kekuasaannya, bayi begitu tidak peduli dengan sekelilingnya, yang terpenting adalah mendapatkan segala kebutuhannya, setiap kali dia “menunjukkan kekuasannya” dengan senjata yang cukup ampuh : menangis! Ketika si bayi menjadi dewasa, apakah yang akan terjadi?”

Dalam masyarakat berpengetahuan, manusia-manusia tanpa pengetahuan niscaya akan tergeser dan terpinggirkan, bahkan kalah karena mereka tidak akan mampu memasuki dan berkiprah pada berbagai aktivitas utama kehidupan manusia [ekonomi, pekerjaan, dan lain-lain] yang notabene berbasis pengetahuan. Manusia-manusia berpengetahuan akan unggul dan berjaya karena mereka niscaya mampu memasuki dan eksis dalam berbagai aktivitas utama kehidupan. Hal ini menunjukkan bahwa pengetahuan telah menjadi modal dasar keunggulan dalam abad pengetahuan sekarang.

Dengan modal pengetahuan [intelektual] yang bermutu dan unggul, seseorang [atau sekelompok masyarakat] niscaya mampu eksis, unggul, berjaya, dan berkiprah secara berarti dalam suatu bidang kehidupan mutakhir selain mereka juga mampu berkembang dengan baik. Sebaliknya, dengan modal pengetahuan yang terbatas, “pas-pasan”, apalagi usang, seseorang [atau sekelompok masyarakat] niscaya akan terancam, terpinggirkan, malah tergusur dari bidang kehidupan mutakhir. Hal ini mengimplikasikan, manusia berpengetahuan atau yang mempunyai modal pengetahuan akan menjadi manusia bermutu dan unggul, sedang manusia yang tidak memiliki modal pengetahuan akan menjadi manusia “terbelakang” dan serba kalah.

Sehubungan dengan itu, pengembangan dan peningkatan mutu modal manusia dan modal pengetahuan menjadi tugas, imperatif, dan tantangan bagi semua individu, masyarakat, dan bangsa jika ingin selamat memasuki dan mampu berkiprah dalam abad pengetahuan. Individu yang mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu modal pengetahuannya pasti akan mampu bermain dan berjaya dalam kehidupan abad pengetahuan. Masyarakat dan bangsa yang mampu mengembangkan dan meningkatkan mutu modal manusia dan pengetahuan mereka niscaya akan menjadi masyarakat dan bangsa unggul dan berperanan dalam abad pengetahuan. Sebab itu, tidak mengherankan, individu-individu, masyarakat-masyarakat, dan bangsa-bangsa di dunia [termasuk ke dalamnya lembaga atau organisasi masyarakat dan bangsa] sibuk dan disibukkan oleh kegiatan-kegiatan pengembangan dan peningkatan mutu modal manusia dan modal pengetahuan.

Dalam upaya pengembangan dan peningkatan mutu modal manusia dan modal pengetahuan, pendidikan dan pembelajaran telah dipandang oleh pelbagai kalangan sebagai wahana, wadah, dan jalur yang sangat utama dan vital sehingga mempunyai kedudukan, fungsi, dan peranannya sangat penting, strategis, bahkan taktis. Pada galibnya, individu, masyarakat, dan bangsa yang terobsesi untuk mengembangkan dan meningkatkan mutu modal manusia dan modal pengetahuan menempatkan dan memperlakukan pendidikan dan pembelajaran sedemikian penting dalam kehidupan di samping memprioritaskan pemenuhannya. Dapat dikatakan, hal ini juga telah menjadi obsesi dan program berbagai pemerintah. Untuk itu diperlukan suatu landasan dalam mengembangkan pengetahuan yaitu keimanan dan ketaqwaan. Sebagai modal dasar dalam pendidikan dalam acuan pembelajaran adalah kurikulum, sehingga diperlukan suatu kurikulum yang relevan dengan tuntutan jaman.

Teori pendidikan berbeda dari satu peradaban ke peradaban yang lain, dari satu masyarakat ke masyarakat yag lain dan dari suatu masa ke masa yang lain. Pada zaman pertengahan, agama Kristen membatasi konsep teori pendidikan dalam menanamkan keimanan terhadap keselamatan yang dapat menyelamatkan daripada keburukan dunia dan mempersiapkannya untuk kebahagian akhirat. Pada zaman Renaisans teori pendidikan itu terpusat pada persiapan individu untuk menikmati kehidupan, mengeksploitasi lingkungan, dan fokus kepada pendidikan keindahan, jasmani dan tingkah laku

Pada zaman modern, teori pendidikan di barat berusaha mengangkat tingkat hidup dan menyebarkan pemikiran kemanusiaan, dan memandang pendidikan sebagai investasi ekonomi dan salah satu tonggak perkembangan teknologi, sains dan perindustrian. Apa yang terjadi pada teori pendidikan tersebut dapat dikatakan juga terjadi pada teori pendidikan islam saat ini yang terpengaruh oleh budaya yang dominan, waktu, tujuan politik dan sosial.

Pada hakikatnya teori pendidikan Islam yaitu teori dengan konsep asasnya dari pandangan Islam yang menyeluruh (syamil) tentang wujud insan dan hubungan dengan penciptanya dan dengan alam jagat dan kehidupan. Prinsip pendidikan Islam adalah (1) pendidikan alqur’an dan hadist sebagai sumber normatif. (2) Ajaran pokok Islam yang meliputi keimanan (aqidah), hukum (syariah) dan moral Islam (akhlaq). (3) Sumber dan ajaran Islam sudah semstinya diaktualisasikan dalam kehidupan. Dari prinsip pendidikan Islam tersebut hendaknya dalam melakukan kegiatan pembelajaran mengintegrasikan dan mensinergiskan kedalam mata pelajaran dengan upaya menyusun kurikulum pendidikan. Untuk mewujudkan itu perlu diadakan kegiatan simposium pendidikan dasar Islam dengan tema “ Telaah Model Pendidikan Dasar Islam”.

0 komentar:

Posting Komentar